Kamis, 06 Januari 2011

Bintang Harapan

Di tengah germelap sebuah kota bersautan suara semarak tahun baru bergantian petasan diluncurkan ke udara mewarnai langit malam yang bertabukan bintang-bintang yang berkelip. Sorak soraiya suara orang menyambut malam pergantian tahun ini. Namun tak terlihat sedikitpun kebahagiaan di raut wajah seseorang yang laki-laki yang sedang duduk diemperan sebuah toko yang tutup. Raut wajahnya begitu lusuh dengan pakaian yang hampir bisa dimkatakan compang camping. Andi itulah nama yang ia miliki,seorang pemuda yang dulu sering aku lihat begitu pandai dan rupawan,menjadi panutan teman-temannya kini ia hanya seorang pemuda yang hidup di jalanan. Terkadang aku sering menemaninya berbicang-bincang saat aku mempunyai waktu senggang,memang terasa sedih saat aku mendenggarkan ceritanya tentang keluarga yang dulu ia miliki,begitu bahagia dalam keluarganya mulai hancur saat ayahnya pergi meninggalan ibunya,hidupnya mulai kacau   sejak saat itu.
Aku berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya sembari melihat petasan tang mewarnai langit, "Bukankah itu indah,setiap tahun perayaan tahun baru semakin meriah?" Tanya ku padanya. Namun tak ada sedikitpun tanggapan darinya.
Selang beberapa saat ia mulai berbicara,"Ya mungkin,namun tahun ini juga tak akan mengubah apapun". jawabny begitu singkat,ia berdiri dan berjalan pergi. Aku mengikuti langkahnya kakinya dari belakang.
" Kenapa kamu tidak mencoba untuk merubahnya sendiri?" Pertanyaanku membuat langkahnya terhenti. "Apa kamu tak ingin berubah dari dirimu yang sekarang?" lanjutku bertanya padanya.
"Apa yang bisa aku lakukan jika ini adalah takdirku?" Kayanya tanpa sedikitpun menoleh padaku. Ia mulai melanjutkan langkahnya,entah kemana langkahnya akan pergi aku tetap mengikutinya."Lihatlah semua ini!" langkahnya terhenti di bangunan kosong yang dahulu sebuah pasar terlihat banyak anak-anak jalanan dan para gelandangan yang tinggal. "Mereka semua mempunyai takdir yang sama seperti aku". Kami berdua duduk di depan bangunan yang dahulu sebuah kios.
"Ini bukan takdir".ucapku singkat padanya. "ini bukan takdir mu aatau takdir mereka,namun ini adalah nasib,nasib yanfg sama antara kau dan mereka". lanjut ucapan ku tanpa sedikit pun aku melihatnya namun aku tau ia mendengarkan apa yang aku katakan.
"Nasib atau takdir itu sama." Katanya sinkat dan lantang.
"kedua itu tidaklah sama,taktir memang tak dapat di ubah namun nasib hanya diri kita yang bisa mengubahnya, slma kita berusaha untuk merubahnya." Sautku dengan terang." Lihatlah bitang itu". ucap ku menunjuk satu bintang di langit yang redup." Sinarnya redup,ia bernasip sama dengan mu". andi mulai menatap bintang-bintang yang aku tunjukkan. "Dan lihatlah bintang yang bersinar sangat terang di sebelah sana, itu adalah bintang harapan. Bintang itu mempunyai harapan
 ingin mejadi bintang yang paling terang diantara bintang-bintang lainya".
"Apa yang kamu mengerti tentang mereka?"
"Aku sering berbicara pada meraka?"
"Bagaimana?"
"Seperti halnya kunang-kunang mereka berkomunikasi antara satu dengan yang lainya dengan cahaya mereka sendiri. Saat kamu ingi berbicara dan mengerti bintang-bitang itu, coba pahamilah sinar mereka." Jelas ku padanya.
"Apa aku bisa seperti bintang yang terang itu?" Tanyanya dengan mata yang  menatapku.
"Selama kau ingin berusaha mewujudkan harapan mu".
Sejak saat itu pemuda yang dulu sering dengan harapan kosongMmenjadi bintang yang penuh dengan harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar